MATADUNIA ONLINE - Gunung Slamet merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Slamet mempunyai ketinggian setinggi + 3,432 meter, gunung tertinggi kedua di pulau jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.Di kaki gunung ini juga terdapat sebuah kawasan wisata bernama Baturraden atau Batur Raden. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas. Obyek wisata ini sangat luas karena di dalamnya juga terdapat beberapa wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi, di antaranya Taman Botani, Curug Gede, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Wana Wisata, Telaga Sunyi, dan Taman Kaloka Widya Mandala.
Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pendakian di Gunung Slamet terkenal cukup rumit. Di sepanjang jalur pendakian hampir tidak terdapat air. Untuk menuju puncak Gunung.Slamet ada 3 jalur, lewat jalur Kaliwadas, lewat Batu Raden dan lewat Bambangan, dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan.
Kebanyakan para pendaki memilih melewati jalur Bambangan, masalah air biasanya dapat teratasi pada jalur ini walau sumbernya kadang-kadang mengering. Selain air, faktor rumitnya pendakian ditandai dengan kabut gunung yang sangat pekat dan berubah-ubah. Meski pendakian ke puncak Gunung Slamet dikenal cukup rumit, namun kondisi ini justru menjadi tantangan yang menarik bagi para pendaki.
Jalur Bambangan
Untuk menuju Jalur pendakian Bambangan, dimulai dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.
Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal
Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih 2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.
Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.
Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.
Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi.
Jalur Kaliwadas
Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan mobil Jeep atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.
Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira - kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.
Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.
Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalur dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.
Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitarnya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakin parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal menyusuri pinggiran kawah menuju arah timur.
Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.
Jalur Baturraden
Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.
Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.
Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan tropis.
Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet. (Adr)
Secara rinci akses menuju lokasi air terjun ini melalui jalan Lubuk Sao-Arikia. Sepanjang 600 meter menuju lokasi air terjun, masih berupa jalan setapak sehingga memberikan kesan alami kepada para wisatawan yang ingin mengunjunginya.
Sebagai bentukan alam yang terletak di kawasan hutan, suhu di sekitar air terjun dan pemandian Gadih Ranti sangatlah sejuk. Sangat cocok untuk tempat melepas lelah dan kejenuhan. Saat ini telah terdapat gazebo di lokasi wisata air terjun yang terdiri dari beberapa tingkat ini.
Pemandian Gadih Ranti
Pemandian Gadih Ranti berada di atas Air Terjun Gadih Ranti. Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat setempat, menyatakan bahwa pada masa dahulunya ada seorang gadis yang bernama Gadih Ranti yang selalu menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pemandiannya.
Konon Gadis Ranti adalah nama seorang Putri yang bijaksana dan sakti, dia juga memiliki perawakan rupawan dan berambut panjang. Ia pernah memerintah di daerah tersebut. Selama masa pemerintahannya, Gadih Ranti banyak membangun istana, mesjid, dan berbagai prasasti lainnya. Tempat ini jadi semakin menarik, baik untuk berekreasi maupun untuk mengetahui tentang sejarah putri sakti yang bernama Gadih Ranti tersebut.
Jika dilihat sekilas, pemandian ini mengandung misteri tersendiri karena kolam pemandian seakan-akan terbuat dari batu alam yang besar, yang seperti sengaja dipahat untuk menjadi wadah menampung air untuk mandi dan berendam. Namun demikian, objek wisata ini tetap menjadi daya tarik karena airnya yang bersih ditunjang oleh keberadaannya dilokasi yang terlindung.
MATADUNIA ONLINE - Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat mulai diincar oleh para aktivis Kayak Arus Deras atau Whitewater Kayaking sebagai tempat tujuan wisata petualangan. Karena, daerah ini memiliki sungai-sungai yang bervariasi dan berarus deras yang sangat ideal sebagai tempat petualangan kayak arus deras. Terutama jeram-jeram dan air terjun yang sangat menantang buat para penggemar kayak kelas berat. Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Solok Selatan, DR. Yul Amri, mengungkapkan hal itu kepada pers di Padang Aro, Solok Selatan, kemarin. "Sungai-sungai di wilayah kami memiliki tingkat kecuraman ideal bagi kegiatan kayak dan arung jeram. Dari yang mudah, sedang, hingga yang ekstrem semua ada di Solok Selatan. Hal itu yang menarik aktivis kayak internasional untuk mengunjungi kabupaten kami,” ucapnya
Potensi itu, kata DR. Yul Amri, tidak akan disia-siakan. Untuk itu, pihaknya telah merancang sebuah program untuk menjadikan Solok Selatan sebagai destinasi wisata kayak dan arung jeram. Keseriusan Pemda Kabupaten Solok Selatan terlihat dengan telah dimasukkannya anggaran untuk menunjang olah raga ini ke dalam APBD 2010.
Sebagai langkah awal, pihaknya telah melakukan survei potensi sungai beberapa waktu yang lalu. Survei itu akan dilanjutkan lagi dengan Survei dan Eksibisi Kayak.
Survei akan digelar mulai hari ini 18 - 24 November 2009. Survei itu akan dilakukan bekerja sama dengan Komunitas Kayak Tirtaseta, sebuah kelompok yang selama ini dikenal aktif menggeluti kegiatan kayak arus deras di tanah air.
Selanjutnya, pada 25 - 26 November 2009 akan dilaksanakan sebuah kegiatan Photo Sessions yang diperuntukkan bagi para fotografer. Dalam kegiatan photo sessions tesebut, para kayaker akan melakukan eksibisi dengan mengarungi sungai-sungai yang memiliki tantangan dan pemandangan menarik.
Sedangkan para fotografer diberikan kesempatan untuk memotret aksi para kayaker di sungai-sungai terpilih yang telah disurvei pada 18-24 November.
Kayaker Internasional
Sementara itu, Ketua Komunitas Kayak Tirtaseta, Toto Triwindarto, mengatakan, atas mandat yang diberikan oleh Pemda Solok Selatan, pihaknya telah mengundang para kayaker internasional untuk datang ke Solok Selatan.
"Sesunguhnya, setelah mereka melihat foto-foto sungai-sungai di Solok Selatan, banyak sekali yang ingin berkunjung ke Solok Selatan. Tetapi, mengingat ini belum merupakan event resmi dan baru pada tahap survei, kami sementara ini masih melakukannya secara terbatas dulu,” kata kayaker yang memililiki pengalaman dan sertifikat kayak dan arung jeram dari Selandia Baru dan Kanada tersebut.
Menurut Toto, ada empat orang kayaker luar negeri yang telah berkomitmen dan menyatakan konfirmasi menghadiri acara survei dan eksibisi yang telah dijadwalkan. Mereka mendarat di BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada hari Sabtu 14 November 2009 jam 20.40. Di BIM disambut pengalungan bunga untuk tamu istimewa tersebut oleh Uda & Uni Solok Selatan sebagai bentuk ungkapan kehangatan sambutan di Ranah Minangkabau.
"Para kayaker yang memiliki reputasi di dunia kayak internasional. Mereka juga entepreneur yang siap membantu mengembangkan wisata petualangan kayak di Solok Selatan", kata Toto. Selain itu, 2 orang dalam rombongan itu juga terdapat fotografer dan penulis khusus wisata kayak arus deras yang akan memotret dan mempromosikan kegiatan kayak arus deras di Solok Selatan ini ke media-media di dunia internasional.
MATADUNIA ONLINE | LAMPUNG - Sepi memang. Tapi justru oleh karena itu pula, tempat ini dapat menjadi alternatif yang tepat untuk didatangi guna menghilangkan kepenatan dan stres setelah Anda membanting tulang selama sepekan. Namanya Pantai Bagus. Lokasinya hanya sekitar satu kilometer dari Jalan Lintas Sumatera atau 8 km dari Kota Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di daerah ini, seperti Pantai Merak Belantung, Pantai Pasir Putih, dan Pantai Mutun, Pantai Bagus memang masih sepi pengunjung. Maklum, pantai ini baru dibuka untuk umum sejak tahun 2008 lalu. Apalagi pengelolanya belum begitu gencar mempromosikan. Lagi pula, belum banyak fasilitas seperti arena permainan anak-anak.
Di pantai yang berada di Teluk Lampung ini, pengunjung bebas menikmati ombak pantai dan Gunung Rajabasa yang berdiri menjulang di seberangnya. Kadang-kadang, pada sore hari juga ada perahu nelayan yang memasang jaring atau memancing. Jika nelayan membawa ikan ke pantai, pengunjung bisa membelinya dan langsung dibakar di tempat tersebut. Menikmati ikan bakar dengan nasi plus sambal terasi di pinggir laut tentu akan memberi kesan tersendiri.
Bagi yang suka berenang, Anda bisa mencebur ke perairan dangkal di bibir pantai. Pada musim kemarau airnya jernih dan bersih, sedangkan pada musim hujan, airnya agak keruh dan kadang-kadang banyak sampah karena tak jauh dari pantai ini terdapat muara sungai. Tapi bagi yang ingin bersantai sambil tidur-tiduran, juga tersedia saung-saung terbuka berlantai bambu dan beratap daun kelapa yang nyaman. Di antara saung tersebut ada yang tingginya mencapai empat meter sehingga pengunjung bisa memandang lepas ke arah lautan dan Gunung Rajabasa yang menjulang di depannya. Sarana ini tentu memberikan panorama indah bagi pengunjung.
Suasana di pantai ini juga lebih adem dan sejuk karena ditumbuhi pohon kelapa dan pohon pelindung lainnya yang rindang. Di antara pepohonan ini, anak-anak bisa bermain bola dan kejar-kejaran.
Wisata Keluarga
Wahyudi, warga Kalianda yang ditemui di pantai tersebut, mengaku sering mengajak keluarganya menikmati hari libur ke Pantai Bagus. Selain dekat dari tempat tinggalnya dan mudah dijangkau dengan angkutan pedesaan, Pantai Bagus juga relatif lebih sepi. "Kami lebih rileks dan santai serta anak-anak juga senang bermain bola dan kejar-kejaran di pantai tanpa terganggu pengunjung lainnya," ujar guru sebuah SMK negeri ini.
Di pantai ini tidak terdapat saung-saung setengah tertutup seperti di pantai-pantai lainnya yang sering digunakan anak-anak muda berpacaran. "Kalau ada saung-saung begitu, kita risih dan juga tidak mendidik anak-anak ketika melihat para remaja berpelukan. Jadi pantai ini benar-benar pas untuk liburan keluarga," sambungnya.
Bahkan, ungkapnya, jika ada nelayan yang membawa ikan hasil tangkapannya bisa dibeli untuk dibakar, lalu disantap bersama keluarga. "Rasanya gurih. Maklum ikannya masih segar sehingga anak-anak makan lahap sekali," tambahnya.
Namun sebagai objek wisata baru, Pantai Bagus belum sebagus namanya. Masih terdapat sejumlah kekurangan, antara lain kebersihan di bibir pantai masih minim sehingga banyak sampah yang dibiarkan berserakan. Padahal untuk masuk ke objek wisata ini, pengelola memungut tiket Rp 5.000/orang dan Rp 5.000/mobil. Oleh karena itu seharusnya pengelola menyediakan fasilitas dan sarana yang lebih memadai.
Asep, salah seorang penjaga Pantai Bagus mengaku semua hasil penjualan tiket disetorkan kepada pemilik. Terkait perbaikan dan penambahan sarana, pengunjung sudah sering menyampaikan kepadanya. "Mudah-mudahan, pada tahun ini pemilik memperhatikan keluhan pengunjung agar pantai ini lebih ramai," ujarnya berharap.
Ia mengakui, dibandingkan dengan Pantai Merak Belantung dan Kalianda Resort yang berada di sebelahnya, Pantai Bagus yang paling sepi pengunjung. Selain karena relatif baru dibuka untuk wisatawan, juga karena pantai ini masih kurang dalam hal kebersihan, fasilitas, dan sarana bermain lainnya.
Untuk mencapai Pantai Bagus cukuplah mudah. Warga Kalianda bisa menumpang minibus jurusan Panjang dan turun di pertigaan Pantai Merak Belantung dan tinggal berjalan kaki menuju pantai. Demikian pula bagi pengunjung dari Bandar Lampung, bisa naik bus jurusan Bakauheni, lalu turun di pertigaan Pantai Merak Belantung.
Jika Anda bepergian dengan sepeda motor dan mobil, tentu lebih mudah lagi karena jalan hingga sekitar 200 meter dari pantai sudah berupa aspal mulus. (Adr)
Diantara empat pantai itu berkesempatan mengunjungi Pantai Baron dan Kukup. Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Baron. Untuk bisa mencapai kawasan ini, sebelumnya pengunjung harus mencapai Wonosari, ibukota Kabupaten Gunung kidul, yang berjarak lebih kurang 40 km dari Kota Yogyakarta. Setelah mencapai Wonosari, pengunjung masih menempuh perjalanan lebih kurang 22 kilometer ke arah selatan. Pemandangan pertama ketika sampai di Baron,
pengunjung bisa melihat banyakya perahu nelayan yang berjajar di pantai. Pantai Baron merupakan teluk yang dikelilingi dinding berupa bukit hijau serta ditumbuhi banyak pohon kelapa. Bukit-bukit itu seakan membatasi pantai, dan membentuk pintu gerbang dari pesisir pantai menuju lautan luas, dengan muara sungai bawah tanah yang terdapat tepat di bibir pantai.
Sambil memandang dan merasakan lembutnya hamparan pasir yang berwarna kecoklatan di pantai ini. Di pantai ini pada pagi hari banyak nelayan yang melelang ikannya selain itu ada Baron juga memiliki wisata lain yaitu Goa Sinogo. Disini pengunjung juga bisa membeli souvenir yang terbuat dari kerang dan biota laut lainnya.
Perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Kukup. Pantai ini hanya berjarak 1 kilometer dari Baron. Disini pasirnya berwarna putih kekuningan, dan terdapat tangga ke bukit dan jalan setapak menuju shelter (point view) yang berada di atas karang. Sudah bisa ditebak, kalo pemandangan dari sini sangat indah. Sebenarnya di Baron pun ada tangga menuju atas bukit, namun belum dibuat permanen seperti di Kukup.
Di Pantai Kukup pengunjung harus berhati-hati sebelum menceburkan diri ke air, karena banyak karang dilaut dangkalnya. Pengujung bisa membeli jaring kecil untuk menangkap ikan dan binatang laut lainnya. Atau pengunjung bisa langsung membeli aneka mahluk laut untuk menambah koleksi akuarium air lautnyaseperti, ikan hias, belut laut, bintang laut, bahkan terkadang dijual juga anak hiu.
Untuk bisa mencapai Pantai Baron dan Kukup pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi dari Yogyakarta atau Magelang. Bagi yang ingin menggunakan kendaraan umum pengunjung bisa memilih Bus umum ( Rp.4000) atau Mikro bus (elf) jurusan Yogyakarta-Wonosari. Dari kota Wonosari diteruskan dengan Micro bus ke Baron ongkosnya sekitar 2000 rupiah.
Di Baron pengunjung yang ingin membeli ikan di pelelangan bisa datang pagi-pagi sekali tapi tentunya harus kuat dengan aromanya yang berbau amis. Untuk membeli ikan hias di Kukup, sebaiknya pintar-pintar menawar karena harganya masih bisa turun sampai 60%. (Adr)
MATADUNIA | SULAWESI UTARA - Danau Linow yang memiliki luas sekitar 34 Ha.Danau Linow Berada di Kelurahan Lahendong kota Tomohon ,Di samping panorama sekitar danau yang elok, danau ini memiliki ciri khas tersendiri.Danau ini berkadar belerang tinggi, sehingga warna air danau yang muncul selalu berubah-ubah. Ia selalu tampil cantik akibat munculnya warna-warni tadi. Pengunjung akan takjub dengan warna yang berubah tatkala meliriknya dari beragam sudut. Kendati demikian, mesti diingat bahwa pengunjung harus hati-hati dengan kubangan lumpur panas mendidih yang berada di tepi danau.
Danau yang ‘menyimpan’ warna-warna indah dan selalu berubah-ubah ini berada di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara atau lebih tepatnya masuk teritori Kabupaten Tomohon. Danau ini bisa dicapai dengan angkutan umum/mikrolet dari terminal bus di kota terdekat, yakni Kota Tomohon. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan berjalan sekitar 700 meter untuk ke Danau Linow. Peminat wisata alam berupa danau Linow, dapat melihat pesona desa Lahendong yang berada di dekat danau.
Di sekitar danau ini terdapat satwa endemik berupa burung blibis dan serangga yang oleh penduduk setempat dinamakan "sayok" atau "komo". Serangga unik yang hidup di air tapi bersayap dan bisa terbang ini menjadi konsumsi penduduk setempat. Kadang-kadang terdengar kicauan burung-burung kecil dan burung putih besar yang melintasi danau. (Agus)
MATADUNIA | BELITUNG - Pantai Tanjung Pendam berada di pusat kota Tanjungpandan, tidak jauh dari Museum Pemda Tk. II Belitung. Terdapat gedung-gedung peninggalan jaman Kolonial Belanda yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat tinggal dan sarana umum seperti rumah sakit.Gedung-gedung Tua di tepi pantai ini mengarah ke Barat dan wisatawan bisa menyaksikan sunset ketika senja hari. Tempat wisata ini, selain hari-hari libur juga ramai dikunjungi bila sore hari oleh penduduk lokal untuk bersantai. Fasilitas yang ditawarkan seperti rumah makan dan area arena permainan yang sering digunakan untuk even-even tertentu.
Acara tradisi Buang jong pada tahun-tahun tertentu oleh suku Sawang, diadakan di tepi pantai ini sekitar bulan Agustus sampai November. Potensi paling populer pantai tanjung pendam sering dimanfaatkan masyarakat untuk mencari kijing, yaitu sejenis cacing laut yang diambil dari lubangnya menggunakan kapur sirih dengan lidi sapu atau benang.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan laut Tanjung Pendam untuk memancing ikan bebulus. Kawasan pantai seluas 22 Ha ini yang telah dikembangkan oleh dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten Belitung seluas 2,25 Ha dengan menyediakan berbagai fasilitas umum, sementara yang 19,75 Ha hingga saat ini belum dikembangkan. (Ist) (Photo. sunburstadventure.com)
MATADUNIA | YOGYAKARTA - Seandainya anda menginginkan menginap dengan suasana 'ndeso' nan segar, bersahaja, dan penuh keramahan, adalah sangat pas jika menjadwalkan kunjungan ke Dusun Tembi. Terletak di perkampungan sederhana di Desa Timbulharjo, tepatnya di Jl Parangtritis Km 8,4, kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara fisik, desa wisata ini dipusatkan di Rumah Budaya Tembi. Sebuah Joglo yang berfungsi sebagai museum budaya yang di lengkapi pendopo, galeri, perpustakaan dan ruang baca, serta Rumah Dokumentasi Budaya. Rumah Budaya Tembi ini sarat dengan suasana tradisional khas kampung Jawa. Ini terlihat dari tempat penginapan yang diberi nama Tembi Ndeso Resort. Setidaknya ada 5 rumah Limasan Jawa, 1 rumah tradisional Jawa Barat, dan 1 rumah dengan disain arsitektur baru dengan dasar sebuah rumah limasan.
Semua rumah tersebut merupakan asli buatan tahun 1940-an yang didatangkan dari pelosok daerah di Pulau Jawa, seperti Wonosari, Kalasan, Klaten, bahkan Sumedang. Untuk memudahkan pengunjung mengenalinya, tiap rumah diberi nama yang menggambarkan asal-usul masing-masing.
Misalnya Rumah Wuryantoro adalah rumah limasan Jawa yang didirikan di wilayah Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Lain lagi dengan Omah Ganjuran, sebuah rumah Limasan seluas 75 meter persegi asli Ganjuran, Bantul. Keempat rumah yang lain masing-masing dinamai Omah Ngadirodjo, Omah Adikarto, Omah Badegan, dan Omah Polaman.
Selain menginap dan menikmati kesederhanaan masyarakat desa serta keindahan arsitektur rumah-rumah limasan, anda juga bisa mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang tersebar di sekitar dusun Tembi. Situs bersejarah di wilayah itu diantaranya Sitihinggil, Masjid Agung Kerta, Sumur Gumuling, Kedaton, Masjid Agung Plered, makam Raja-raja Imogiri, dan Goa Selarong.
Suasana tradisional dan 'ndeso' juga dihadirkan untuk lidah dan perut pengunjung. Tembi Ndeso Resort memiliki sebanyak 264 resep makanan kuno, termasuk 60 macam sambal, yang konon disadur dari serat Centhini, sebuah karya sastra jawa yang ditulis tahun 1814. Tak lupa dihadirkan pula berbagai menu khas Jawa yang lebih umum. (and/photo: istimewa)
MATADUNIA | POZNAN - Jepang mendukung usaha Indonesia menjadikan Tana Toraja sebagai nominasi warisan dunia. Untuk itu, Jepang akan ikut dalam upaya konservasi di Tana Toraja, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu.Dukungan ini disampaikan dalam pertemuan antara delegasi Indonesia dan Jepang di Poznan, Polandia, Sabtu (11/9/2010), Pertemuan dilakukan setelah usainya Pertemuan Para Menteri Kebudayaan Asia dan Eropa (Asia-Europa Culture Minister Meeting/ASEM) yang keempat pada 9-10 September di Poznan yang dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 40 negara di Asia dan Eropa.
Dalam pertemuan ini, delegasi Indonesia antara lain terdiri dari staf ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat, Direktur Peninggalan Purbakala Junus Satrio Atmodjo dan Hubertus Sadirin. Sedangkan anggota delegasi Jepang antara lain Seiichi Kondo dan Koji Kitayama dari Departemen Hubungan Kebudayaan Pemerintah Jepang.
Selain konservasi rumah adat Tana Toraja, menurut Sadirin, Pemerintah Jepang juga menyatakan minatnya dalam konservasi rumah adat di Nias, Sumatera Utara. "Pemerintah Jepang memiliki banyak ahli dan data yang kuat dalam konservasi. Bantuan itu yang kita butuhkan dalam kerja sama ini, terutama dalam proses nominasi Tana Toraja sebagai warisan dunia," kata Sadirin.
Menurut Sadirin, dukungan Pemerintah Jepang ini merupakan bagian dari kerja sama proyek konservasi antara Jepang dan Indonesia yang telah dimulai pada tahun 1998. Kegiatan lain yang telah dilakukan dalam kerja sama ini, antara lain dalam konservasi istana tua Sumbawa di Nusa Tenggara Barat yang telah dimulai pada tahun 2006.
Istana Tua Sumbawa yang dibangun dari kayu jati dan memiliki 99 tiang ini, merupakan salah satu warisan budaya penting dari Raja Sumbawa. (Kompas)
MATADUNIA BELITUNG - Objek Wisata Pantai Teluk Gembira terletak di Desa Padang Kandis Kecamatan Membalong Kabupaten belitung atau berjarak sekitar 65 Km dari kota Tanjungpandan.Pantai Teluk Gembira terletak dipesisir yang berhadapan langsung dengan Pulau Seliu yang terlihat jelas dari tepi pantai. Pantai Teluk Gembira ini memiliki panorama yang indah dengan perpaduan antara bebatuan dan pasir putih serta laut lepas yang biru dihiasi oleh pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Gembira.
Di pantai Teluk Gembira ini terdapat dermaga penyeberangan yang disinggahi setiap hari oleh perahu yang membawa orang yang mau menyeberang ke Pulau Seliu. Selain itu terdapat fasilitas musholla dan shelter. (And*) (Photo. disbudpar.belitungkab.go.id)
MATADUNIA | BELITUNG - Sebuah bukit batu granit setinggi 250 meter dari permukaan tanah di desa Membalong, berjarak sekitar 70 km dari kota Tanjungpandan. Terdapat sebongkah batu berdiameter 1,5 meter yang seolah-olah menempel di tebing Batu Baginde yang curam.Batu baginde dianggap penduduk setempat sebagai tempat yang memiliki nuansa magis yang kental dan dihubungkan dengan legenda asal mula terjadinya pulau Belitung, Hal ini merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.
Batu Baginde cocok sekali sebagai tempat olahraga panjat tebing terutama bagi wisatawan yang berjiwa petualang dan menyukai tantangan. Masih di sekitar desa Membalong, tepatnya di desa Perpat juga terdapat goa Nek Santen yang dihuni oleh kelelawar yang jumlahnya sangat banyak, goa ini dikelilingi oleh hutan yang dapat dijadikan obyek wisata alam. (Ryn)
MATADUNIA | MEMBALONG - Pantai Tanjung Kiras berjarak sekitar 70 km dari kota Tanjungpandan, terletak di desa Padang Kandis kecamatan Membalong. Pantai ini memiliki panorama menawan yang merupakan perpaduan antara bukit, pantai berbatu dan pulau-pulau kecil yang terlihat jelas dari bibir pantai.Keunikan pantai Tanjung Kiras ini adalah suasananya yang masih sangat alami sehingga akan sangat menarik bila dikunjungi oleh wisatawan yang menyenangi panorama alam yang masih asri dan alami. Pantai Tanjung Kiras memiliki fasilitas shelter dan kafetaria. Pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal terutama hari minggu ataupun pada hari libur. (And*)
MATADUNIA | NUSA TENGGARA TIMUR - Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah barat Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.
Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo.
Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis "New Seven Wonders of Nature" yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com. (Ist)
MATADUNIA | YOGYAKARTA - Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tazbir, mengatakan empat wartawan senior dari Vietnam yang melakukan kunjungan jurnalistik ke DIY diharapkan ikut mempromosikan pariwisata provinsi ini.Empat wartawan dari berbagai media massa di Vietnam itu, diterima Tazbir di kantornya di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (21/9/2010). Mereka adalah Do Thi Anh Tuyet, Editor Chief of Vietnam Journey Review; Dong Thi They Liah, Jurnalis of News and Current Affairs Department VTV; Luong Trung Hie, Deputi Editor of Cultural Newspaper; dan Bui Voa Long, Cameraman of News and Current Affairs Dept VTV.
Menurut Tazbir, keanekaragaman potensi pariwisata DIY ternyata menarik perhatian para wartawan dari Vietnam tersebut. Oleh karena itu, Dinas Pariwisata DIY menyambut positif kunjungan empat wartawan dari Vietnam itu. "Kunjungan mereka akan memberi dampak positif bagi industri pariwisata DIY," kata Tazbir.
Tazbir mengatakan potensi pariwisata DIY yang beragam itu memang harus dikembangkan terus, di antaranya dengan mengundang sejumlah media massa asing untuk meliput keanekaragaman wisata budaya yang ada di provinsi ini. "Bagi DIY potensi pasar wisatawan asal Vietnam sangat menjanjikan, dan di masa depan akan terus ditingkatkan," kata Tazbir.
Meskipun industri pariwisata di negeri itu masih tergolong baru, kata dia, namun jumlah wisatawan yang mengunjungi Vietnam terus meningkat setiap tahunnya. "Hal ini diumungkinkan dengan pola terbuka yang diterapkan negara tersebut untuk mengejar ketertinggalan setelah sekian lama tertutup akibat dilanda peperangan," katanya.
Keempat wartawan asal Vietnam itu berada di Yogyakarta selama dua hari, 21 hingga 22 September 2010. Selama di Yogyakarta mereka mengunjungi beberapa objek wisata di antaranya Keraton Ngayogyakarta Hadininngrat, sentra produksi gerabah Kasongan, Candi Borobudur, Batik Rorojonggrang di kawasan Prawirotaman, dan kawasan Kotagede. (Kompas)
MATADUNIA - Lebih dari 40 tahun yang lalu, ketika pertama kali berkunjung ke Bangkok, salah satu atraksi wisata yang paling mengesankan bagi saya adalah pasar terapung.Pada waktu itu, pasar terapung Bangkok berlokasi di sekitar Wat Arun. Ratusan pedagang menjual dagangannya dari perahu-perahu kecil yang dikayuh pelan hilir-mudik di sekitar kawasan itu. Ini memang benar-benar pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk setempat, Sayangnya, tahun demi tahun, floating market yang dulu kondang di Bangkok ini semakin merosot mutunya sebagai atraksi pariwisata. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika saya “terbujuk” oleh pengemudi taksi air untuk berkunjung ke floating market, ternyata saya diantar ke sebuah pasar tradisional di dekat Wat Sai, Bangkok. Memang, di situ ada sebuah pasar darat yang cukup ramai. Tetapi, yang beroperasi menjual dagangan dari sampan kecil di anak sungai Chao Phraya itu bisa dihitung dengan jari. Jualannya pun tidak mengesankan.
Ada seorang perempuan setengah baya berperahu dengan cooler box yang terus merayu-rayu wisatawan untuk membeli bir. Ada lagi beberapa perahu yang menawarkan kartu pos dan benda-benda suvenir. Saking sedikitnya sampan pedagang, justru kami yang harus mengejar-ngejar sampan yang diperkirakan berfungsi sebagai toko berlayar.
Sejak dasawarsa terakhir ini, pengelola pariwisata Thailand sudah “menciptakan” floating market baru di Damnoen Saduak – sekitar satu jam bermobil ke sebelah Barat Bangkok. Skalanya sangat besar, sehingga menjadi daya tarik pariwisata yang memang mengesankan.
Di samping itu, penyelenggara pasar terapung ini ternyata berhasil benar-benar mengoperasikannya sebagai pasar sesungguhnya yang memang merupakan tempat transaksi sehari-hari bagi warga masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Setiap hari, puluhan bus pariwisata datang ke Damnoen Saduak membawa ribuan wisatawan. Mereka kemudian naik sampan-sampan kecil dan menyusuri sungai yang penuh dengan sampan-sampan pedagang. Kebanyakan para pedagang di pasar terapung menjual bahan-bahan makanan untuk dimasak di rumah. Tetapi, beberapa perahu juga menjual masakan untuk dinikmati di tempat. Di sepanjang sungai pun banyak didapati warung-warung dan toko-toko dengan berbagai jualan.
Di pasar ini, penduduk setempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, sedangkan para wisatawan berbelanja benda-benda suvenir maupun sarapan berbagai makanan-minuman yang dijajakan di sana. Bahkan mereka yang sudah sarapan di hotel pun pasti tergoda untuk mengudap lagi di sana. Penjual mi kuah, pad thai (mi goreng), buah potong, pisang goreng, dan berbagai kudapan yang disajikan secara menarik.
Saya sempat mencicipi mi bebek yang enak, dari sebuah sampan yang ditambat. Rupanya, karena mi bebek ini sangat terkenal, ia tidak sempat lagi hilir-mudik mengayuh perahunya. Sampan-sampan lain mengantre untuk membeli mi bebek. Bagusnya, untuk mengatasi kemacetan, sampan-sampan wisatawan tidak boleh “parkir”. Lalu, bagaimana mengembalikan mangkuk mi? Gampang! Pengemudi sampan nanti akan mengembalikannya bila lewat tempat itu lagi.
Sungguh, sebuah atraksi yang sangat menarik dan interaktif dengan penduduk lokal.
Rose garden
Karena Damnoen Saduak jaraknya agak jauh di luar Bangkok, maka sebuah objek pariwisata lain pun diciptakan untuk “menangkap” wisatawan yang berkunjung ke kawasan Barat Bangkok ini. Tempat ini dikenal dengan nama Rose Garden. Awalnya tempat ini merupakan venue penyelenggaraan sebuah konferensi anggrek internasional.
Rose Garden dibangun dengan konsep sebuah taman bunga yang asri, sehingga mampu menjadi tempat persinggahan yang menarik. Di sini juga ada fasilitas hotel, tempat makan semacam food court yang mampu menampung beberapa bus pariwisata sekaligus, maupun restoran fine dining yang cukup bagus.
Tetapi, atraksi utama Rose Garden bukanlah taman bunganya. Di tengah kawasan ini dibangun sebuah panggung yang mampu menampung sekitar seribu tamu. Panggungnya sendiri sangat luas, replika dari sebuah pusat desa. Di panggung ini dipertunjukkan kehidupan sehari-hari rakyat Thailand dalam koreografi yang memikat. Diawali dengan arak-arakan penduduk kampung – lengkap dengan beberapa ekor gajah yang memang selalu merupakan bagian dari proses semacam ini – yang sedang mengikuti acara meminang pengantin.
Kemudian, upacara perkawinan pun digelar, lengkap dengan berbagai tari-tarian. Penampilan atraksi di Rose Garden ini mengingatkan saya pada atraksi serupa di Saung Angklung Mang Ujo, di pinggiran Kota Bandung. Menurut saya, Mang Ujo juga berhasil menyuguhkan koreografi yang bagus dan alamiah untuk menampilkan kehidupan masyarakat kita.
Phra Pathom Chedi
Selain Rose Garden, atraksi pariwisata lain di sebelah Barat Bangkok ini adalah Phra Pathom Chedi – candi tertinggi di dunia. Stupa utamanya setinggi 127 meter. Candi ini letaknya di kota kecil Nakhon Pathom. Sayangnya, Phra Pathom belum cukup populer dibanding atraksi pariwisata Thailand lainnya.
Di Delta Sungai Mekong, di pinggiran Ho Chi Minh City (Saigon), juga ada sebuah atraksi wisata sungai yang sangat mungkin mendapat inspirasi dari sukses Thailand menyelenggarakan pasar terapung Damnoen Saduak ini. Tetapi, dengan pintar mereka mengubah atraksinya agar tidak 100 persen menyontek.
Di Delta Sungai Mekong ini, wisatawan diajak naik sampan-sampan kecil yang dikayuh oleh para ibu-ibu menyusuri sungai kecil di sela-sela hutan rumbia, menuju sebuah desa kecil yang masyarakatnya hidup dari perkebunan buah naga. Di sini para wisatawan dijamu dengan berbagai jenis buah-buahan khas Vietnam, serta melihat berbagai pertunjukan tentang kesenian desa.
Setelah menikmati suasana kebun buah di desa, para wisatawan dipandu naik kereta kuda menuju desa yang lain. Di desa itu, wisatawan melihat industri rumahan kerajinan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Ada demonstrasi pembuatan dodol, dan berbagai jajanan lokal.
Kemasan semacam ini memang sangat menarik, karena hanya dalam waktu beberapa jam saja para wisatawan dapat menyerap cara hidup dan budaya masyarakat setempat.
Banjarmasin
Kita sebenarnya juga memiliki pasar terapung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang pernah kita banggakan. Sayangnya, pasar terapung satu-satunya di Indonesia ini sekarang semakin terancam kepunahan. Supermarket adalah tempat belanja bagi masyarakat modern. Siapa yang mau belanja dengan turun ke sungai?
Lho, bukankah di RCTI kita masih sering melihat klip video tentang keindahan pasar terapung itu? Ternyata, menurut informasi yang saya peroleh, ketika melakukan shooting, RCTI (atau griya produksi yang membuat klip video ini) harus mendatangkan bertruk-truk buah-buahan dan sayur-mayur, serta mengerahkan puluhan sampan. Dengan kata lain, pemandangan yang kita lihat di layar RCTI itu adalah “panggung” yang ditata secara spektakuler.
Kenyataannya, ketika terakhir berkunjung ke sana tahun lalu, sudah semakin sedikit pedagang yang berjualan di pasar terapung Banjarmasin ini. Hanya ada beberapa sampan berisi pisang, jeruk, kelapa, daun singkong – itu pun tidak penuh – lalu lalang sejak subuh di sekitaran pasar. Pembelinya tidak seberapa banyak. Wisatawan yang datang pun hanya segelintir.
Harus diakui, kehadiran pasar terapung sebagai kebutuhan sehari-hari memang semakin berkurang. Tetapi, seandainya dilakukan redefinisi – misalnya dengan membuatnya sebagai pasar terapung yang hanya buka pada akhir pekan – mungkin sekali kita dapat menghidupkan kembali pasar-pasar terapung seperti ini. Tidak hanya di Banjarmasin, melainkan juga di beberapa kota yang memiliki sungai.
(Ist)

